Cermin Nusantara

Ditemukan Ulat dalam MBG di Halsel, BARAH Sebut Penyedia Kejar Keuntungan Semata

HALSEL, CN – Ditemukannya ulat dalam Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan kepada siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), menuai sorotan tajam. Insiden ini dinilai mencederai kualitas layanan MBG sekaligus berpotensi merusak citra program unggulan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto.

Berdasarkan informasi dari sumber internal, ulat ditemukan dalam makanan MBG yang dibagikan kepada siswa MTs Negeri 2 Halsel yang berlokasi di Desa Babang, Kecamatan Bacan Timur, pada Senin (26/1/2026).

“Baru saja ditemukan ulat dalam makanan bergizi di MTs Negeri 2 Halmahera Selatan, Desa Babang. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi, hanya saja diduga sengaja ditutupi,” ungkap sumber internal tersebut.

Kepala Sekolah (Kepsek) MTs Negeri 2 Halsel, Abdurahim Hamza, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, membenarkan kejadian tersebut.

“Iya benar, kejadiannya tadi sekitar jam 10 lewat. Setelah itu langsung disampaikan oleh koordinator MTs ke pihak MBG, dan mereka langsung turun ke sekolah untuk mengecek,” jelas Abdurahim.

Menanggapi insiden tersebut, Ketua Barisan Rakyat Halmahera Selatan (BARAH), Ady Hi. Adam, mendesak agar pihak penyedia MBG segera dievaluasi secara menyeluruh.

“Kasus ditemukannya ulat dalam makanan bergizi di MTs Desa Babang ini merupakan bentuk kelalaian serius. Pihak penyedia MBG harus bertanggung jawab dan segera dievaluasi,” tegas Ady.

Menurutnya, kejadian ini tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada kepercayaan publik terhadap program nasional.

“Kasus seperti ini mencoreng citra Program Presiden Prabowo. Penanganannya harus serius, dan bila perlu penyedia MBG tersebut diberhentikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ady menilai bahwa pihak penyedia lebih berorientasi pada keuntungan dibandingkan kualitas gizi dan keamanan makanan bagi anak-anak sekolah.

“Kami melihat ada kecenderungan penyedia mengejar keuntungan semata, sementara aspek gizi dan kesehatan siswa diabaikan,” tandasnya. (Hardin CN)

Sinergi Pemerintah dan Harita Nickel Dorong Ketahanan Pangan di Pulau Obi

HALSEL, CN – Kolaborasi antara Harita Nickel dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), dalam memperkuat ketahanan pangan lokal membuahkan hasil positif. Kedua pihak menggelar panen raya padi sawah seluas 12 hektare di Desa Buton, Kecamatan Obi, Jumat (23/1/2026), dengan proyeksi peningkatan produktivitas yang signifikan.

Bupati Halsel, Hasan Ali Bassam Kasuba, yang hadir memimpin panen raya, menegaskan bahwa keberhasilan ini mematahkan anggapan bahwa wilayah Obi sulit dikembangkan untuk pertanian padi.

“Apa yang selama ini identik dengan daerah lain, hari ini terbukti hadir di Obi dan memberikan manfaat nyata. Ini menunjukkan potensi besar yang dapat berkontribusi pada ekonomi lokal,” ujar Bupati Bassam.

Ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi kunci utama dalam penyediaan infrastruktur serta pendampingan petani. Pemerintah Daerah (Pemda), tegasnya, berkomitmen mendukung pengembangan pertanian sawah melalui penguatan infrastruktur pendukung, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, serta pendampingan berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas petani.

Produktivitas Meningkat Tajam

Sebelum panen raya, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Obi bersama petani dan tim Community Development Harita Nickel melakukan pengubinan dengan hasil produktivitas mencapai 8 ton per hektare.

Plt Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Halsel, Suyatmi Aljogja, memaparkan bahwa hasil panen kali ini mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat dibanding musim tanam sebelumnya. Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata nasional yang berkisar 5 ton per hektare.

“Peluang pengembangan masih sangat besar, mengingat Desa Buton memiliki potensi lahan sawah hingga 100 hektare yang belum tergarap optimal,” jelas Suyatmi.

Ia menambahkan, capaian tersebut merupakan hasil dari kolaborasi yang solid dengan perusahaan, dukungan pendampingan teknis yang memadai, pemanfaatan sarana produksi pertanian, serta peningkatan kapasitas petani.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan juga menyerahkan bantuan mesin perontok padi (thresher) untuk meningkatkan efisiensi pascapanen.

Dorong Pertanian Berkelanjutan

Peningkatan produktivitas ini tidak terlepas dari dukungan Harita Nickel melalui program Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI). Community Development Superintendent Harita Nickel, Suryo Aji, menjelaskan bahwa program ini melibatkan 28 anggota aktif dari dua kelompok tani, yakni Poktan Akemoriri dan Poktan Batu Putih, Koperasi Milenial Obi, serta Pemerintah Desa (Pemdes) Buton.

“Panen raya ini adalah bukti ketekunan dan kerja keras petani. Pengukuhan Kelompok Tani Milenial menjadi simbol harapan dan regenerasi, sementara tanam perdana mencerminkan masa depan pertanian yang berkelanjutan. Kami percaya kolaborasi lintas sektor dapat menjadikan pertanian sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan sektor pertanian, dilakukan pula pengukuhan Kelompok Tani Milenial. Sebanyak 17 pemuda dari Desa Buton, Jikotamo, dan Akegula dikukuhkan sebagai motor penggerak regenerasi petani di Pulau Obi.

Kegiatan panen raya ditutup dengan prosesi panen bersama serta penanaman perdana padi sawah sebagai simbol keberlanjutan musim tanam berikutnya. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Harita Nickel berharap sektor pertanian di Halsel terus berkembang, berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Hardin CN)

Pemuda Obi Ini Buktikan Mimpi Bisa Diraih Lewat Program PELITA Harita Nickel

HALSEL, CN – Di bawah langit Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), yang cerah, pemuda asal Desa Soligi, Kecamatan Obi, Kasman La Jaani (18), berdiri tegak. Raut lega sekaligus haru tampak jelas di wajahnya. Di tangannya, tergenggam sebuah sertifikat, bukti bahwa ia bukan lagi pemuda Desa biasa, melainkan salah satu wisudawan terbaik program vokasi Bahasa Mandarin yang digelar Harita Nickel pada Kamis, 27 November 2025.

Namun, lembaran kertas itu bukan sekadar tanda kelulusan. Bagi Kasman, sertifikat tersebut adalah “monumen” kemenangan atas keputusasaan yang nyaris merenggut mimpinya.

Di usia yang masih sangat muda, Kasman harus berada di persimpangan jalan, antara melanjutkan belajar atau mencari sesuap nasi. Perjalanannya bermula saat ia bergabung dalam program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) angkatan ke-3, sebuah program intensif enam bulan hasil kerja sama Harita Nickel dan lembaga IndoPanda. Program ini menjanjikan gerbang menuju masa depan bagi pemuda di desa lingkar tambang. Namun, kenyataan di lapangan tak semudah membalik telapak tangan.

Setiap hari, Kasman harus bertarung dengan jarak. Medan sulit Soligi–Kawasi menjadi santapan sehari-hari. Bukan hanya faktor alam, “badai” sesungguhnya justru datang dari rumah bernama himpitan ekonomi. Sebagai tumpuan harapan keluarga, Kasman terjebak dalam dilema yang menyakitkan.

“Awalnya berat sekali. Saya merasa tidak sanggup dan ingin berhenti saja,” kenang Kasman getir, Selasa (20/1/202).

Saat itu, hanya satu pikiran yang ada di kepalanya, berhenti belajar agar bisa bekerja serabutan demi membantu dapur orang tuanya tetap mengepul,

Pendekatan Hati Tim CSR Mengetuk Pintu Rumah

Kabar tentang niat mundurnya Kasman sampai ke telinga tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel. Bagi perusahaan, Kasman bukan sekadar angka dalam statistik peserta, melainkan talenta lokal yang cahayanya tak boleh padam begitu saja.

“Kami mendengar cerita Kasman dan berpikir, sayang sekali jika ia berhenti. Kami tahu ada motivasi dan harapan besar dalam dirinya,” ujar Ragil Pardiantoro, Community Development Supervisor Harita Nickel.

Alih-alih memberikan surat peringatan, tim CSR memilih jalan empati. Mereka menempuh perjalanan menuju kediaman Kasman di Desa Soligi untuk berdialog secara kekeluargaan. Di hadapan orang tua Kasman, tim memberikan pemahaman bahwa menguasai Bahasa Mandarin adalah “kunci emas” yang akan mengubah nasib keluarga mereka di masa depan, jauh lebih besar dibanding pendapatan serabutan saat ini.

Ketulusan tim CSR menjadi titik balik. Kunjungan itu meluluhkan keraguan orang tua Kasman.

“Saya bisa lanjut karena kakak-kakak CSR datang meyakinkan saya dan orang tua. Dari situ, semangat saya bangkit kembali,” tutur Kasman.

Dukungan orang tua menjadi bahan bakar baru. Kasman melesat melampaui keterbatasannya. Dari 30 peserta yang memulai perjuangan, hanya 22 orang yang berhasil bertahan hingga garis finis. Kasman secara mengejutkan keluar sebagai lulusan terbaik kedua.

Ia membuktikan bahwa pemuda lingkar tambang bukan hanya penonton di tanah sendiri. Melalui program PELITA, mereka bertransformasi menjadi pemain utama yang memiliki sertifikasi kompetensi di industri global.

Bagi Kasman, hari wisuda itu adalah garis start baru. Program yang memadukan kurikulum berkualitas dengan pendampingan penuh empati ini telah mengubah garis tangannya.

“Saya percaya skill Bahasa Mandarin ini mampu membawa masa depan yang lebih cerah,” katanya penuh optimisme. Di balik senyumnya, kini tak ada lagi keraguan, hanya ada kesiapan untuk menaklukkan tantangan di masa depan. (Hardin CN)

Melewati Masa Kontrak 2025, Proyek Darurat BPBD Halsel di Desa Maffa Belum Rampung hingga 2026

HALSEL, CN – Proyek penanganan darurat bencana berupa normalisasi dan penguatan tebing sungai di Desa Maffa, Kecamatan Gane Timur, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), menuai sorotan karena molor. Pasalnya, proyek bernilai fantastis Rp 3,9 miliar yang dikerjakan CV. Mita Atamari itu hingga kini belum juga rampung, meski masa kontrak telah lama berakhir.

Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, kegiatan tersebut bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025 dengan waktu pelaksanaan selama 150 hari kalender. Artinya, proyek ini seharusnya sudah selesai pada tahun 2025. Namun ironisnya, saat ini sudah memasuki Januari 2026, pekerjaan di lapangan masih tampak terbengkalai.

Hasil pantauan wartawan cerminnusantara.co.id belum lama ini menunjukkan kondisi proyek yang jauh dari kata selesai. Di lokasi terlihat tumpukan batu yang belum tertata rapi dan satu unit alat berat yang terparkir disekitar sungai.

Bahkan pada salah satu titik, tampak bangunan penahan tebing berupa struktur beton memanjang yang baru dikerjakan sebagian. Di sisi kiri beton terlihat susunan batu kosong tanpa pengikat yang rapi, sementara di sisi kanan hanya berupa jalan tanah yang belum dipadatkan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pekerjaan terkesan setengah hati dan jauh dari standar penyelesaian proyek senilai miliaran rupiah.

Lebih memprihatinkan lagi, proyek yang mengatasnamakan “penanganan darurat bencana” justru terkesan tidak darurat dalam pelaksanaannya. Jika benar proyek ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari ancaman banjir, maka keterlambatan penyelesaian jelas merupakan bentuk pengabaian terhadap keselamatan warga sekitar.

Saat berada di lokasi, wartawan cerminnusantara.co.id juga sempat menanyakan langsung kepada salah seorang pekerja terkait mandeknya pekerjaan tersebut. Pekerja itu mengatakan bahwa pihak kontraktor saat ini sedang berada di Jakarta.

“Bos ada di Jakarta,” ujar pekerja tersebut singkat.

Wartawan cerminnusantara.co.id juga telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halsel, Aswin Adam, di ruang kerjanya saat masih menjabat sebagai Kepala BPBD Halsel. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena yang bersangkutan sedang berada di luar kantor atau menghadiri agenda bersama Bupati Halsel, Hasan Ali Bassam Kasuba.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun Kepala BPBD Halsel yang baru dilantik Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba, masih dalam upaya konfirmasi kembali terkait alasan keterlambatan pekerjaan, apakah ada addendum kontrak, denda keterlambatan, atau justru pembiaran yang disengaja. (Hardin CN)

Pernyataan Bupati Halteng soal Gaji Karyawan IWIP Rp 7–8 Juta Tuai Kritik Warganet

HALTENG, CN — Pernyataan Bupati Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Provinsi Maluku Utara (Malut), Ikram Malan Sangadji, terkait besaran gaji karyawan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menuai kritik tajam dari warganet dan pekerja tambang.

Diketahui, pernyataan tersebut disampaikan Ikram dalam Rapat Koordinasi Kepala Daerah yang digelar di Bella Hotel pada Selasa (17/12/2025). Dalam forum itu, Ikram menyamakan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan IIIA yang menurutnya tidak sampai Rp 4 juta per bulan dengan gaji karyawan IWIP.

Ia bahkan menyebut bahwa pekerja IWIP yang hanya melampirkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan kartu kuning pencari kerja dapat menerima gaji sebesar Rp 7–8 juta per bulan di luar lembur.

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh sejumlah pekerja IWIP. Salah satu karyawan melalui unggahan di media sosial Facebook menyebut bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Izin ralat Pak, untuk statement Pak Bupati soal gaji karyawan PT IWIP Rp7–8 juta di luar lembur itu salah besar. Faktanya tanpa lembur gaji kami hanya sekitar Rp3 jutaan,” tulis seorang karyawan IWIP dalam unggahan yang viral atas nama Nyong Palaes.

Unggahan tersebut mendapat ratusan tanggapan dari warganet yang sebagian besar menyuarakan kekecewaan terhadap pernyataan Bupati. Mereka menilai ucapan itu tidak berbasis data dan tidak mencerminkan realitas kesejahteraan pekerja tambang di kawasan industri tersebut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari Bupati Halteng terkait perbedaan data gaji yang dipersoalkan oleh para pekerja IWIP. (Hardin CN)

Polres Metro Jakarta Barat Amankan Dua Pak Ogah Terkait Video Dugaan Pungli di Kalideres

JAKARTA BARAT, CN – Menanggapi laporan serta keresahan masyarakat terkait beredarnya video dugaan aksi Pungutan Liar (pungli) oleh sejumlah pak ogah di Jalan Outer Ring Road, Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Polres Metro Jakarta Barat bergerak cepat melakukan penindakan.

Dalam video berdurasi sekitar 44 detik yang beredar luas di media sosial, terlihat seorang pak ogah mendekati sebuah truk angkutan barang dan diduga menerima sejumlah uang dari pengemudi kendaraan tersebut. Video tersebut kemudian menuai perhatian dan keluhan dari masyarakat.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Arfan Zulkan Sipayung, saat dikonfirmasi pada Sabtu, 17 Januari 2026, membenarkan bahwa pihaknya telah mengamankan para terduga pelaku.

“Sudah kami amankan kurang dari 24 jam. Ada dua orang, yakni SW alias Leong yang terekam dalam video viral, serta RH. Keduanya diamankan pada Jumat, 16 Januari 2026,” ujar AKBP Arfan.

Ia menjelaskan, kedua terduga pelaku diamankan di tempat tinggal masing-masing. Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui peristiwa tersebut bermula saat sopir kendaraan kontainer yang sedang berhenti di tepi jalan menanyakan arah menuju Tol Merak.

“Terduga pelaku SW alias Leong kemudian memberikan petunjuk arah, dan sopir memberikan uang sebesar Rp2.000 secara sukarela tanpa adanya permintaan secara langsung dari pelaku,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, pihak kepolisian melakukan koordinasi dengan Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Kedoya, Jakarta Barat, guna memberikan pembinaan terhadap kedua terduga pelaku.

Polres Metro Jakarta Barat menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti setiap laporan masyarakat serta menjaga ketertiban dan kenyamanan pengguna jalan, khususnya dari praktik-praktik yang berpotensi meresahkan masyarakat. (Hardin CN)